Mempersempit Vagina???
Written on February 27, 2007 – 6:43 am | by arizalfauzi
Oleh: Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, Dokter Ahli Andrologi dan Seksologi
Tidak sedikit istri yang tidak tertarik lagi melakukan hubungan seksual setelah mempunyai anak. Mengapa ini terjadi?
Memang tidak sedikit istri yang mengaku tidak tertarik lagi
melakukan hubungan seksual setelah mempunyai anak. Pada umumnya alasan
yang dikemukakan oleh para suami ialah karena istri menjadi sibuk dan
letih setelah mengurus rumah tangga dan anaknya.
Mungkin alasan itu benar, khususnya kalau istri bekerja seorang diri
tidak dibantu oleh orang lain. Tetapi mungkin pula alasan itu sengaja
dibuat agar dapat menghindar dan aktivitas seksual dan hubungan seksual.
Memang tidak sedikit istri yang tidak dapat menikmati kehidupan
seksualnya selama menikah karena sebab tertentu. Tetapi mereka tidak
pernah menyampaikan masalah ini kepada suaminya. Mereka tetap saja
melakukan hubungan seksual memenuhi permintaan sang suami karena tidak
berani menolak.
Setelah melahirkan dan mempunyai anak, terbukalah kesempatan untuk
menghindar dari hubungan seksual yang dikehendaki suami. Dengan alasan
letih dan sibuk mengurus anak, mereka mempunyai alasan untuk menolak
keinginan suami.
Kemungkinan lain ialah istri memang mengalami disfungsi seksual
akibat melahirkan. Salah satu gangguan fisik yang dapat dialami oleh
wanita setelah melahirkan ialah melemahnya otot-otot dasar panggul yang
terletak di sekitar vagina. Kelemahan otot tersebut dapat menimbulkan
disfungsi seksual berupa hambatan orgasme karena rangsangan seksual
yang diterima selama melakukan hubungan seksual menjadi berkurang.
Akibatnya, dorongan seksual menjadi tertekan atau hilang sama sekali.
Sebagian istri dengan persetujuan suami menempuh cara
melahirkan melalui operasi caesar agar vaginanya tidak berubah.
Benarkah alasan itu?
Dalam proses melahirkan terjadi tekanan terhadap dinding vagina oleh
bayi, khususnya oleh bagian kepala bayi. Tekanan yang kuat oleh kepala
bayi acapkali mengakibatkan tahanan otot-otot dasar panggul di sekitar
vagina melemah. Perubahan ini wajar terjadi sebagai akibat peregangan
yang bersifat mekanik.
Tahanan otot vagina yang melemah ini oleh suami dirasakan sebagai
melonggarnya vagina ketika melakukan hubungan seksual. Jadi kalau ada
suami yang mengeluh vagina istrinya berubah setelah melahirkan, itu
dapat dimengerti dan dapat dijelaskan seperti di atas. Di pihak wanita
sendiri, kelemahan otot sekitar vagina dapat mengurangi rangsangan
seksual yang diterima selama melakukan hubungan seksual.
Untuk menghindari perubahan itu dan mungkin untuk menghindari
keluhan suami, sebagian istri memilih cara operasi caesar untuk
melahirkan bayinya. Dengan cara operasi melalui dinding perut ini, maka
tekanan oleh kepala bayi terhadap dinding vagina yang terjadi selama
proses melahirkan dapat dihindari. Dengan demikian maka terjadinya
kelemahan tahanan dinding vagina juga dapat dihindari.
Tetapi tentu saja tidak semua wanita mau memilih cara operasi karena
alasan tertentu, yaitu perasaan takut efek samping operasi, biaya yang
cukup mahal, dan bekas luka operasi pada dinding perut yang mungkin
dirasa mengganggu penampilan dinding perut.
Adakah cara untuk mengembalikan tahanan otot dinding vagina yang melemah karena proses melahirkan?
Otot sekitar vagina yang melemah sebagai akibat tekanan kepala bayi
selama proses melahirkan dapat dilatih agar menjadi lebih kuat. Tetapi
hasilnya sangat tergantung kepada sejauh mana otot-otot itu mengalami
peregangan sehingga melemah dan intensitas latihan yang dilakukan.
Cara melatih otot sekitar vagina ialah dengan latihan Kegel. Latihan
ini dilakukan dengan mengencangkan dan mengendurkan kembali otot-otot
dasar panggul di sekitar vagina. Pada dasarnya latihan dilakukan dengan
membuat gerakan mengencangkan otot dasar panggul seperti ketika menahan
aliran air kencing. Setelah otot dikencangkan beberapa lama, kemudian
dikendurkan lagi. Demikian latihan dilakukan berulangkali sampai otot
dasar panggul di sekitar vagina menjadi lebih kuat. Tetapi tentu saja
latihan ini memerlukan ketekunan dan waktu.
Sebagian istri melakukan operasi untuk mempersempit
vaginanya dengan tujuan untuk memuaskan suami. Apakah ini memang suatu
jalan keluar yang benar?
Banyak istri yang berupaya dengan berbagai cara agar vaginanya yang
dianggap longgar akibat melahirkan dapat menjadi seperti dulu lagi.
Pada umumnya upaya tersebut dilandasi keinginan agar sang suami tidak
melakukan penyelewengan seksual dengan orang lain. Tetapi sayang, upaya
yang dilakukan tidak selalu benar dan baik. Tidak sedikit yang menempuh
cara yang tidak benar dan mengandung risiko terjadinya akibat buruk.
Salah satu cara yang ditempuh oleh sebagian istri ialah operasi
vagina. Mereka mengharapkan setelah menjalani operasi diameter vagina
menjadi lebih sempit, bahkan kembali ke ukuran sebelum menikah dan
melahirkan.
Walaupun alasan operasi dapat diterima dan cara operasi pun dapat
dilakukan, tetapi hasilnya tidak selalu menggembirakan. Tidak sedikit
yang merasa kecewa karena hasil operasi tidak seperti yang diharapkan.
Yang lebih penting, walaupun vagina telah dioperasi, belum tentu suami
merasa puas. Masalahnya, kepuasan seksual juga menyangkut keterlibatan emosi, bukan semata-mata hanya orgasme (kenikmatan seksual).
Jadi tidak pasti sang suami merasa puas dan tidak melakukan
penyelewengan seksual, walaupun istrinya sudah menempuh cara operasi
untuk mempersempit ukuran vaginanya.
Apalah artinya membenahi vagina kalau suami sudah merasa tidak
tertarik lagi kepada istri sebagai satu individu, kalau tidak ada lagi
komunikasi yang baik, dan tidak ada lagi keterlibatan emosional.
Jadi sebelum menempuh cara operasi vagina, pastikan dulu masalah
yang ada dengan suami. Apakah masalah utama memang terletak pada vagina
yang tidak seperti dulu ataukah berpangkal pada masalah lain. Belum
lagi efek samping yang mungkin timbul dan proses operasi. Sejarah
kedokteran Indonesia pernah mencatat kematian seorang ibu di Jakarta
ketika melakukan operasi untuk mempersempit vagina.*
