DAMPAK MEDIS SHALAT TAHAJJUD


Written on February 7, 2007 – 8:38 am | by arizalfauzi

DAMPAK
MEDIS SHALAT TAHAJJUD

Sholat
Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang

yang melakukannya
mendapatkan tempat (maqam) terpuji di

sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi

dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh,

dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa

membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit

kanker.

Tidak
percaya?

Cobalah
Anda rajin-rajin sholat tahajjud.
"Jika anda

melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas,

niscaya Anda terbebas dari infeksi dan kanker". Ucap

Sholeh. Ayah dua anak itu bukan

‘tukang obat’ jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu

dalam desertasinya yang berjudul ‘Pengaruh Sholat tahajjud

terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh

Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi"

Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor

dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana

Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan

lalu. Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya

merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah.

Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya,

khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan

respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada

imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi

dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan

individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi

(coping).

Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar

menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati

wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat,

ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan.

Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini

sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini

dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas
yang

selama ini dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan

secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.

Parameternya,
lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi

tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada

pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada

malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345

nmol/liter. "Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa

diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan.

Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini

yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama

(Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian

terhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok

Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya

23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama

sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang

bertahan
sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai

pukul
02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing masing dua

rakaat
empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya,

hormon
kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di

Surabaya

(paramita,
Prodia dan Klinika).

Hasilnya,
ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang

rajin
bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang

yang tidak
melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan

ikhlas
bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan

kemampuanindividual
untuk menaggulangi masalah-masalah yang

dihadapi
dengan stabil.

"Jadi
sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga

sekaligus

sarat
dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi

kontrol
kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan

motivasi
positif dan coping yang efectif, emosi yang

positif
dapat menghindarkan

seseorang
dari stress,"

Nah,
menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan

sekali
terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat

tahajjud
yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan

ikhlas
serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki

respons
imun yang baik, yang kemungkinan

besar akan
terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan,

berdasarkan
hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat

tahajjud
yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai

ketahanan
tubuh yang baik.

Sebuah
bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu

mengetahui
semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang

diberikan
oleh ALLAH kepadanya.

Haruskah
kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita???????

Seorang
Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena

beberapa
keajaiban yang di temuinya di dalam

penyelidikannya.
Ia amat kagum dengan penemuan tersebut

sehingga
tidak dapat diterima oleh akal fikiran.

Dia adalah
seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam

dia amat
yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu

ia telah
membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan

Melalui Al
Qur’an" Kajian pengobatan melalui Al-Quran

menggunakan
obat-obatan yang digunakan seperti yang

terdapat
didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji

hitam
(Jadam) dan sebagainya.

Ketika
ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam

maka Doktor
tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf

yang
dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak

manusia ini
tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci

otak
manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi

secara yang
lebih normal.

Setelah membuat
kajian yang memakan waktu akhirnya dia

menemukan
bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di

dalam otak
tersebut melainkan ketika seseorang tersebut

bersembahyang
yaitu ketika sujud.

Urat
tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat

tertentu saja.
Ini artinya darah akan memasuki bagian urat

tersebut
mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang di wajibkan

oleh Islam.

Begitulah
keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang

tidak
menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima

darah yang
secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh

karena itu
kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk

menganut
agama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah

kejadiannya
memang telah dikaitkan oleh Allah

dengan
agamanya yang indah ini.

Kesimpulannya:
Makhluk Allah yang bergelar manusia yang

tidak
bersembahyang apalagi bukan yang beragama Islam

walaupun
akal mereka berfungsi secara normal tetapi

sebenarnya
di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang

pertimbangan
di dalam membuat keputusan secara normal.

Justru itu
tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak

segan-segan
untuk melakukan hal-hal yang bertentangan

dengan
fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui

perkara
yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai

dengan
kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk

mempertimbangkan
secara lebih normal. Maka tidak heranlah

timbul
bermacam-macam gejala-gejala sosial masyarakat saat

ini.

take from

: Tugiya@xl.co.id



Post a Comment